Prodesanews.com | BENGKALIS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Cendekia Politeknik Negeri Bengkalis membuka ruang diskusi kritis lewat kegiatan bertajuk “Pena Sebagai Senjata Perubahan Sosial: Menggugat Batasan dan Membangun Dialog.” Acara ini menjadi wadah mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi dan mengulas problematika kampus secara terbuka.
Kegiatan dilangsungkan pada Sabtu, 5 Juli 2025, di Aula Teknik Informatika Politeknik Negeri Bengkalis. Mahasiswa dari berbagai jurusan dan perwakilan organisasi kemahasiswaan hadir dan terlibat aktif dalam forum tersebut. Diskusi berlangsung dalam suasana dinamis, dipandu moderator internal dari UKM Jurnalistik.
Topik yang diangkat mencakup isu-isu mendasar seperti beban akademik yang dianggap belum proporsional, keterbatasan fasilitas, layanan kampus yang belum merata, serta minimnya keterbukaan dalam pengambilan kebijakan. Evaluasi terhadap peran organisasi mahasiswa juga mencuat, terutama soal daya tanggap mereka terhadap kebutuhan mahasiswa.
Ketua pelaksana kegiatan, Nurul Fitri Rohmayanti, menekankan pentingnya forum semacam ini sebagai ruang partisipasi yang aman dan inklusif.
“Ini adalah ruang yang kami rancang untuk menyuarakan keresahan, menyampaikan ide, dan menciptakan dialog antar mahasiswa—tanpa batasan, tanpa rasa takut. Karena kami percaya, kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga tempat untuk tumbuh dan menyuarakan perubahan,” ujarnya.
Forum ini turut dihadiri Presiden Mahasiswa Herizal Kurniawanto dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta Ahmar Sugiono dari Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). Keduanya menyimak secara langsung dan mencatat berbagai masukan yang muncul dalam dialog.
Pembina UKM Jurnalistik, Irmayanti, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai diskusi terbuka semacam ini merupakan bagian penting dari budaya akademik yang demokratis.
“Kegiatan ini mencerminkan keberanian bersuara dan semangat partisipatif yang harus dirawat oleh seluruh sivitas kampus. Diskusi terbuka adalah bagian dari pendidikan kewargaan yang substansial,” ucapnya.
Melalui inisiatif ini, UKM Jurnalistik berharap tumbuh kesadaran bersama akan pentingnya menjaga ruang kritik yang sehat. Mereka menegaskan bahwa menyampaikan pendapat bukan bentuk perlawanan, melainkan wujud tanggung jawab moral sebagai bagian dari komunitas akademik.
Dengan terus menciptakan ruang-ruang partisipatif, Politeknik Negeri Bengkalis diharapkan menjadi bukan sekadar institusi pendidikan vokasi, melainkan juga tempat tumbuhnya generasi muda yang kritis, inklusif, dan transformatif.
Di tangan mahasiswa, pena bukan sekadar alat tulis, tetapi senjata untuk mendorong perubahan.
(pnc/ril)








