Prodesanews.com | BENGKALIS – Komisi III DPRD Kabupaten Bengkalis menggelar rapat bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) untuk membahas capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD). Rapat berlangsung di ruang Komisi III Sekretariat DPRD Kabupaten Bengkalis, Senin, 19 Mei 2025.
Ketua Komisi III DPRD, Sanusi, mengatakan anggaran daerah tahun 2025 sangat bergantung pada PAD. Ia menilai optimalisasi pendapatan daerah menjadi hal penting karena Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat belum stabil dan kontribusinya terhadap struktur belanja daerah masih minim.
“Dengan efisiensi anggaran dari pusat, kita harus semaksimal mungkin menggali potensi pendapatan daerah. Saat ini kita memasuki triwulan kedua, dan kami ingin mengetahui upaya yang telah dilakukan serta hambatan yang dihadapi dalam mencapai target PAD,” kata Sanusi.
Ia menyebut Kota Duri sebagai wilayah dengan potensi PAD terbesar di Kabupaten Bengkalis. Aktivitas perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah itu dinilai perlu digali lebih dalam untuk meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Bapenda menyampaikan harapan agar PAD tahun 2025 bisa meningkat secara signifikan. Hingga Mei 2025, realisasi PAD baru mencapai 8,77 persen. Meski demikian, terjadi peningkatan dari sektor pajak daerah.
Fakhtiar Qadri mengatakan beberapa item pajak daerah memiliki potensi besar, namun belum menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Ia mengusulkan rapat lintas komisi DPRD guna memanggil organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan dengan sumber PAD dan retribusi.
“Kita harus lebih aktif menggali potensi yang ada agar PAD bisa meningkat,” kata Fakhtiar.
Bapenda juga melaporkan telah menaikkan tarif pajak reklame sebesar dua persen serta menambahkan objek pajak baru, khususnya bagi pelaku usaha yang memasang papan nama. Potensi dari sektor Pajak Hiburan Rakyat (PHR) juga terus digali. Saat ini terdapat 28 perusahaan di Kabupaten Bengkalis yang sedang dalam proses pengurusan izin.
Sekretaris Komisi III, Rahmad, menekankan pentingnya keselarasan data dan output yang masuk ke Bapenda. Ia menyebut keberhasilan PAD sangat bergantung pada upaya bersama dalam menggali potensi yang ada.
“Ketika APBD tidak berjalan optimal, dampaknya sangat besar. Maka dari itu, hari ini kita harus bersama-sama mencari solusi agar PAD bisa terus meningkat,” ujar Rahmad.[ril]








