Laporan: M. Rafii
BENGKALIS – Tidak semua perjalanan menuju kursi kepemimpinan dimulai dari panggung politik. Ada yang tumbuh dari ruang-ruang diskusi mahasiswa, ditempa melalui organisasi, menghabiskan waktu bertahun-tahun mendampingi masyarakat desa, hingga akhirnya menemukan jalannya di dunia politik.
Perjalanan itu pula yang dilalui Fakhtiar Qadri, atau yang akrab disapa Ngah Tiar. Politisi muda kelahiran Pangkalan Batang, Kecamatan Bengkalis, 20 Mei 1987 ini kini berada pada babak baru perjalanan hidupnya. Setelah terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bengkalis periode 2024–2029, ia dipercaya memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis untuk periode 2026–2031.
Kepercayaan tersebut bukan datang dalam semalam. Di balik jas kuning yang kini dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun melalui proses, pengalaman, kegagalan, dan perjumpaan dengan berbagai lapisan masyarakat.
Di usia 39 tahun, Ngah Tiar telah melewati sejumlah ruang pengabdian. Mulai dari aktivis mahasiswa, pengurus organisasi kepemudaan, koordinator pendamping desa bidang ekonomi, tenaga ahli fraksi, anggota legislatif, hingga kini menjadi nakhoda salah satu partai politik besar di Kabupaten Bengkalis.
Lahir dan tumbuh di tengah masyarakat Bengkalis, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Namun, di balik pembawaannya yang low profile, terdapat perjalanan panjang seorang anak daerah yang terus membangun kapasitas diri.
Pendidikan sarjana ditempuhnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Riau (UNRI). Akan tetapi, bukan hanya bangku kuliah yang membentuk cara pandangnya. Organisasi dan pengalaman langsung di tengah masyarakat menjadi sekolah kehidupan yang turut mengantarkannya sampai pada posisi sekarang.
Dari Ruang Diskusi Mahasiswa ke Gerakan Perubahan
Jejak organisasi Ngah Tiar mulai terbentuk ketika menjadi mahasiswa di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Ia memilih bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang menjadi salah satu ruang penting dalam membangun pola pikir, kepemimpinan, dan kepekaan sosialnya.
Di lingkungan mahasiswa, ia tidak hanya datang untuk menuntut ilmu. Ia juga aktif membangun jaringan, berdiskusi, dan mengikuti dinamika gerakan mahasiswa.
Pada 2005–2006, ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Administrasi Negara UIN Suska Riau. Aktivitas tersebut kemudian membawanya ke lingkup organisasi yang lebih luas.
Pada 2006–2008, ia dipercaya menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat universitas dengan membidangi Hubungan Luar Mahasiswa.
Posisi itu memberinya pengalaman berkomunikasi dengan berbagai kelompok mahasiswa, membangun jejaring, serta memahami bagaimana aspirasi diperjuangkan melalui gerakan organisasi.
Kiprahnya kemudian berlanjut di organisasi kedaerahan. Pada 2008 hingga pertengahan 2010, ia dipercaya menjabat Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Bengkalis (IPMKB) Pekanbaru.
Sebagai mahasiswa perantauan, organisasi tersebut menjadi ruang untuk menjaga hubungan dengan kampung halaman sekaligus memperjuangkan kepentingan mahasiswa asal Bengkalis.
Ia juga dikenal aktif menyuarakan aspirasi melalui berbagai aksi mahasiswa. Baginya, mahasiswa tidak cukup hanya sibuk dengan urusan akademik. Ada tanggung jawab sosial yang melekat, yakni ikut mengawal persoalan masyarakat dan menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan yang dinilai perlu diperbaiki.
Pengalaman itulah yang perlahan membentuk keberaniannya dalam menyampaikan pendapat dan memahami persoalan publik.
Pulang Kampung, Melanjutkan Pengabdian
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada pertengahan 2010, Ngah Tiar kembali ke Kabupaten Bengkalis.
Pulang ke kampung halaman tidak membuat aktivitas organisasinya berhenti. Justru di daerah sendiri, ruang pengabdiannya semakin terbuka.
Pada 2011, ia bergabung dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bengkalis. Hampir sembilan tahun berproses di organisasi kepemudaan tersebut, ia dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab hingga menjabat sebagai salah satu Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Bengkalis periode 2011–2019.
Melalui KNPI, interaksinya dengan berbagai elemen pemuda semakin luas. Ia membangun komunikasi dengan organisasi kepemudaan di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa dan kelurahan.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam memahami karakter masyarakat serta dinamika sosial di daerah.
Namun, salah satu fase paling panjang dalam perjalanan pengabdiannya justru berlangsung di sektor pemberdayaan ekonomi desa.
Hampir Satu Dekade Bersentuhan Langsung dengan Ekonomi Desa
Pada 2012, Ngah Tiar mulai menjalankan pekerjaan di lingkungan pemerintahan Kabupaten Bengkalis sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) Kepala Pendamping Desa Bidang Ekonomi.
Pekerjaan ini membawanya berinteraksi langsung dengan berbagai kelembagaan ekonomi desa dan kelurahan. Ia tidak hanya berhadapan dengan dokumen program atau laporan administrasi, tetapi juga menyaksikan bagaimana masyarakat berupaya membangun dan mengembangkan potensi ekonomi di wilayah masing-masing.
Hampir sepuluh tahun menjalankan tugas tersebut, ia melewati beberapa periode kepemimpinan kepala daerah. Mulai dari masa Bupati H. Herliyan Saleh, Bupati H. Amril Mukminin, Penjabat Bupati H. Ahmad Syah Harrofie, hingga Penjabat Bupati H. Syahrial Abdi.
Pengalaman panjang itu memberinya kesempatan melihat pembangunan daerah dari sisi yang berbeda.
Jika sebelumnya ia banyak belajar mengenai gerakan mahasiswa dan kepemudaan, di bidang pendampingan desa ia mulai memahami lebih dekat persoalan ekonomi masyarakat, kelembagaan desa, tata kelola pembangunan, hingga tantangan pelaksanaan program pemerintah.
Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dan besarnya anggaran. Program yang baik membutuhkan pendampingan, komunikasi, partisipasi, serta keterlibatan masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan.
Pengalaman hampir satu dekade inilah yang kemudian menjadi salah satu modal penting ketika ia memutuskan memasuki dunia politik.
Meninggalkan Zona Nyaman, Memilih Jalan Politik
Akhir 2020 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Ngah Tiar.
Ia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di lingkungan pemerintahan pada masa Penjabat Bupati Bengkalis H. Syahrial Abdi.
Keputusan tersebut sekaligus menandai perubahan arah perjalanan kariernya. Setelah bertahun-tahun bekerja dalam pemberdayaan ekonomi desa, ia memilih membuka lembaran baru dengan memasuki dunia politik.
Ngah Tiar kemudian bergabung dengan Partai Golkar.
Langkah itu bukan sekadar berpindah lingkungan kerja. Ia mulai membangun pengalaman dari dalam organisasi politik, mempelajari dinamika kepartaian, serta memahami bagaimana aspirasi masyarakat diperjuangkan melalui lembaga politik.
Pada 2021–2023, ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Bengkalis.
Melalui posisi tersebut, ia mendapatkan pengalaman lebih dekat mengenai tugas dan fungsi DPRD, mulai dari legislasi, penganggaran, hingga pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah.
Tiga tahun berada di lingkungan legislatif menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai kebijakan publik dan mekanisme pemerintahan.
Dari sinilah langkahnya menuju kontestasi politik mulai terbentuk.
Dua Kali Gagal, Tidak Memilih Menyerah
Perjalanan menuju kepemimpinan tidak selalu dihiasi keberhasilan. Ngah Tiar pun memiliki catatan kegagalan yang menjadi bagian dari proses pendewasaan dirinya.
Pada 2008, ia pernah mencalonkan diri sebagai Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Bengkalis (IPMKB), tetapi belum berhasil memperoleh kepercayaan.
Dua tahun kemudian, pada 2010, ia kembali mencoba mengikuti kontestasi untuk menjadi Ketua Karang Taruna tingkat desa. Namun, hasilnya kembali belum sesuai harapan.
Dua pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang tidak dilupakan.
Kegagalan dalam organisasi tidak membuatnya berhenti. Ia tetap melanjutkan aktivitas, memperluas jaringan, dan mengumpulkan pengalaman dari berbagai ruang pengabdian.
Ia belajar bahwa tidak semua kesempatan harus berakhir dengan kemenangan. Ada proses yang harus dijalani sebelum seseorang benar-benar siap menerima tanggung jawab yang lebih besar.
Berbekal pengalaman organisasi mahasiswa, hampir satu dekade di bidang pemberdayaan desa, pengalaman kepemudaan, serta tiga tahun menjadi Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar, ia akhirnya memberanikan diri mengikuti Pemilihan Legislatif 2024.
Kali ini, langkahnya berbuah hasil.
Dari Kontestasi Pertama ke Kursi DPRD Bengkalis
Pemilihan Legislatif 2024 menjadi pengalaman politik elektoral pertama bagi Fakhtiar Qadri.
Bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) I Bengkalis–Bantan, ia berhasil mendapatkan kepercayaan masyarakat dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bengkalis periode 2024–2029.
Dalam kontestasi tersebut, ia menempati posisi kelima dalam perolehan suara dari sembilan kursi yang tersedia di dapil tersebut.
Kemenangan ini menjadi babak baru dalam perjalanan politiknya.
Setelah bertahun-tahun berada di balik berbagai aktivitas organisasi, pemberdayaan masyarakat, dan kerja-kerja kepartaian, kini ia memperoleh kesempatan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat secara langsung melalui lembaga legislatif.
Bagi seorang politisi yang baru pertama kali mengikuti pemilihan legislatif, kursi DPRD bukan hanya pencapaian pribadi. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk mendengar, memahami, dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat yang telah memberikan kepercayaan.
Pengalaman panjang bersentuhan dengan masyarakat desa menjadi bekal tersendiri dalam menjalankan amanah tersebut.
Aklamasi dan Amanah Baru Memimpin Golkar Bengkalis
Belum genap satu periode menjalankan tugas sebagai anggota legislatif, perjalanan politik Fakhtiar Qadri kembali memasuki fase penting.
Dalam Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Bengkalis yang berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis periode 2026–2031.
Terpilihnya Fakhtiar secara aklamasi menandai kepercayaan organisasi kepadanya untuk memimpin dan membawa partai tersebut menghadapi berbagai tantangan politik ke depan.
Posisi baru itu tentu bukan tanggung jawab ringan. Selain menjalankan tugas sebagai anggota DPRD, ia kini harus mengemban amanah untuk mengonsolidasikan kekuatan partai, merawat soliditas kader, membangun komunikasi politik, serta memperluas kehadiran Partai Golkar di tengah masyarakat Bengkalis.
Dari seorang aktivis mahasiswa yang dahulu menyuarakan aspirasi melalui gerakan organisasi, kini ia berada pada posisi yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam mengelola organisasi politik.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana proses panjang dapat membuka jalan menuju ruang pengabdian yang lebih luas.
Namun, terpilih secara aklamasi tentu bukan garis akhir. Justru di sinilah tantangan kepemimpinannya mulai diuji. Sebab, memimpin partai bukan hanya tentang menjaga struktur organisasi, tetapi juga membuktikan bahwa kehadiran partai benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jabatan Bukan Tujuan Akhir
Di balik perjalanan panjang tersebut, Ngah Tiar memandang setiap pencapaian sebagai bagian dari proses pembelajaran. Baginya, jabatan bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Ia menyadari bahwa perjalanan yang dilaluinya tidak mungkin terlepas dari dukungan banyak pihak, mulai dari keluarga, sahabat, rekan organisasi, hingga masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari proses pengabdiannya.
“Bagi saya, setiap perjalanan memiliki proses dan pembelajarannya masing-masing. Tidak semua yang kita cita-citakan dapat diraih dengan mudah. Ada perjuangan, ada tantangan, bahkan ada kegagalan yang harus kita lalui. Namun, saya percaya bahwa selama kita mau belajar, bekerja keras, menjaga silaturahmi, dan tidak berhenti berbuat baik, selalu ada jalan yang diberikan Allah SWT,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengalaman berorganisasi, beraktivitas di tengah masyarakat, hingga berada di lingkungan pemerintahan dan politik telah memberikan banyak pelajaran tentang arti kebersamaan dan tanggung jawab.
“ Saya tidak pernah memandang jabatan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai amanah dan kesempatan untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Pengalaman yang telah saya lalui mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kebersamaan, keterbukaan terhadap kritik dan masukan, serta komitmen untuk saling menguatkan,” tuturnya.
Ke depan, sebagai anggota DPRD sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis, ia ingin terus belajar dan membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
“Bagi saya, yang terpenting bukan seberapa tinggi posisi yang kita capai, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan. Sebab pada akhirnya, jabatan akan ada masanya, tetapi pengabdian dan kebaikan yang kita tinggalkan mungkin menjadi nilai yang terus dikenang.”
Perjalanan Fakhtiar Qadri memberikan gambaran bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari jalan yang mudah. Ada proses panjang yang harus dilewati, ada kegagalan yang harus diterima, dan ada pengalaman yang menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.
Dari ruang diskusi mahasiswa, aktivitas kepemudaan, pendampingan ekonomi desa, hingga panggung politik, setiap fase telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya hari ini.
Kini, setelah dipercaya memimpin Partai Golkar Bengkalis, satu hal yang akan menjadi pembuktian sesungguhnya bukan lagi seberapa panjang perjalanan yang telah dilalui, melainkan seberapa besar amanah itu mampu diterjemahkan menjadi kerja nyata bagi masyarakat.
Sebab, kepemimpinan pada akhirnya bukan tentang siapa yang berhasil menduduki kursi, tetapi siapa yang mampu meninggalkan manfaat setelah mendapatkan kepercayaan.








