Prodesanews.com | Pekanbaru โ Di tanah pesisir yang berpayung pada angin Selat Malaka, hiduplah seni Zapin sebagai jejak pertemuan antara tamadun Arab dan jiwa kebudayaan Melayu. Seiring peredaran masa dan silih pergantian zaman, tarian ini berdiam di dalam denyut sejarah bermula dari ruang istana, turun ke pangkuan rakyat jelata, lalu teguh berdiri sebagai lambang kemuliaan budi, kesantunan gerak, serta ikatan ruhani yang halus dalam kehidupan orang Melayu.
Dari kata zafn pada lidah Arab, lahirlah sebutan Zapin, gerak kaki yang cekatan namun bertertib, lembut tetapi teratur, berirama elok seiring petikan gambus dan hentak marwas yang bersahut-sahutan. Dahulu kala, para saudagar dan alim ulama dari Gujarat dan Hadramaut berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Melayu, bersama mereka datanglah ilmu, dakwah, dan seni. Pada masa itu, Zapin diperkenalkan ke lingkungan istana dan balai pertemuan bangsawan, menjadi persembahan kaum lelaki yang sarat adab, diselimuti doa, serta bernaung pada penghayatan kepada Yang Maha Tinggi.
Namun zaman tiada pernah diam. Dari istana ke kampung, dari balai bangsawan ke halaman pesisir, Zapin pun beralih tempat tanpa terputus akar. Perempuan mulai hadir di dalamnya bukan sekadar pelengkap gerak, melainkan penutur nilai, penjaga keseimbangan, dan pewaris makna yang mengalir dari masa silam menuju hari kini.
Langkahnya tersusun halus, tubuh berdiri dalam harmoni, sedang gambus, marwas, dan rebana berdenting lembut seperti suara hati yang memanggil ingatan leluhur. Tiap gerak bukan semata tarian, melainkan bahasa tubuh yang menyampaikan amanat tentang kesederhanaan, kesantunan, dan rasa hormat kepada hidup. Dalam gerak yang saling menyahut, tersimpan makna kebersamaan, keseimbangan, serta persaudaraan sesama manusia.
Dari Medan hingga Johor, dari pesisir hingga negeri seberang, Zapin menempuh perjalanan panjang. Ada yang masih dekat pada asalnya di Timur Tengah, ada pula yang telah sebati dengan jiwa Melayu halus pada gerak, sederhana namun dalam maknanya, laksana laut yang tenang tetapi menyimpan kedalaman.
Pada masa kini, Zapin tiada sekadar dipersembahkan pada pesta adat atau panggung perayaan budaya. Ia menjadi cermin sejarah, pengingat jati diri, serta jalan halus bagi masyarakat untuk memeluk warisan yang turun-temurun.
Di bumi Riau, tradisi ini beroleh nafas baharu melalui tangan perempuan para guru, pelatih, dan penari yang tekun memeliharanya. Dalam sebuah program kebudayaan di TVRI Riau baru-baru ini, Pelaksana Tugas Ketua TP PKK Provinsi Riau, Adrias Hariyanto, menuturkan bahwa Zapin bukan hanya tarian, melainkan tanda kemuliaan budaya Melayu yang wajib dijaga dan dipelihara dengan kasih.
Perempuan hadir sebagai tiang pelestarian mengajar anak-anak di sekolah dan sanggar, menurunkan teknik dan adab menari, serta menumbuhkan kecintaan pada Zapin di kalangan generasi muda. Mereka membawa Zapin ke festival, ke panggung negeri sendiri, hingga ke pentas kebudayaan di luar wilayah; tidak semata sebagai pertunjukan, melainkan sebagai suara halus identitas Riau.
Di tangan perempuan ini, Zapin tiada membeku sebagai artefak masa lampau. Ia hidup dalam cipta dan kreasi, dalam sulaman busana, dalam alunan musik yang tetap bernafas berakar pada nilai lama, namun mampu menjejak ke bumi zaman baharu.
Bagi orang Melayu Riau, Zapin bukan hiburan belaka. Ia ibarat madah tentang jati diri, teguran lembut tentang budi, dan jalan pulang bagi generasi muda untuk mengenal asal usulnya. Dalam tiap langkah yang bertertib dan tiap gerak yang berlapik adab, tersimpan sejarah yang panjang dan melalui gerak perempuan Riau, Zapin terus berjalan, terus bernyawa, serta terus diwariskan ke masa depan.[pnc/ril]








