PRODESANEWS.COM | BENGKALIS – Di tengah geliat penguatan ekonomi rakyat, sebuah koperasi berdiri kokoh di Desa Bumbung, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis. Bukan koperasi biasa, inisiatif ini menjadi bagian dari lompatan besar ekonomi nasional: peluncuran Koperasi Merah Putih serentak di 80.000 desa se-Indonesia. Dan dari puluhan ribu itu, hanya 108 koperasi yang ditunjuk sebagai percontohan—salah satunya di tanah Bumi Lancang Kuning.
Senin, 21 Juli 2025, koperasi ini diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui sambungan daring dari Klaten, Jawa Tengah. Presiden menyapa desa-desa dari kejauhan, namun semangatnya terasa nyata hingga ke tepian Riau.
Hadir mengikuti seremoni virtual tersebut, Bupati Bengkalis Kasmarni, yang menyambut peluncuran ini dengan antusias. Di balik sambutannya, mengendap harapan besar: koperasi ini bukan hanya tempat berbelanja, tapi pusat denyut baru ekonomi desa.
“Ini bentuk perhatian besar Presiden terhadap ekonomi rakyat. Kami, pemerintah daerah, dan masyarakat Bengkalis, merasa bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran koperasi ini,” ujar Kasmarni, usai mengikuti prosesi peluncuran nasional.
Bukan tanpa alasan Kasmarni memberi pernyataan penuh semangat. Koperasi Merah Putih yang berdiri di Desa Bumbung bukan hanya menjual sembako. Di dalamnya terintegrasi berbagai layanan strategis masyarakat: apotek Kimia Farma menyediakan obat dengan harga terjangkau, Bank Mandiri dan BSI memfasilitasi transaksi dan permodalan, tersedia pula layanan pembayaran listrik, pengiriman Pos Indonesia, gas LPG, pupuk untuk petani, hingga fasilitas cek kesehatan.
Semua layanan ini dihadirkan dalam satu atap. Dalam pandangan Kasmarni, inilah model koperasi masa depan—praktis, menyatu, dan menjawab kebutuhan riil masyarakat bawah. “Masyarakat akan lebih mudah mendapatkan berbagai layanan dasar. Tak perlu lagi ke kota, cukup datang ke koperasi,” ucapnya.
Keistimewaan lain dari koperasi ini adalah statusnya sebagai KDMP Mock Up, atau percontohan nasional. Dari 80.000 koperasi yang diluncurkan, hanya 108 yang masuk kategori tersebut. Di Provinsi Riau, hanya ada empat, yakni di Bengkalis, Kampar, Rokan Hulu, dan Kota Pekanbaru. “Ini menunjukkan Bengkalis dipercaya untuk menjadi model. Tentu kita sambut dengan kerja dan komitmen,” lanjut Kasmarni.
Koperasi Merah Putih mengusung semangat gotong royong. Ia tidak dibentuk sebagai entitas bisnis semata, melainkan sebagai simpul baru ekonomi rakyat. Model yang hendak dihidupkan adalah ekonomi berkelanjutan yang tumbuh dari partisipasi warga desa itu sendiri.
Bagi Kasmarni, koperasi ini bukan hanya hadir sebagai etalase bantuan pemerintah. Lebih dari itu, koperasi ini harus mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi desa. “Kami yakin, koperasi ini bisa membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi desa,” ujarnya. “Kami di Pemerintah Kabupaten Bengkalis siap mendukung agar koperasi ini terus tumbuh dan memberi manfaat jangka panjang.” tutup Kasmarni.
Dalam prosesi peresmian itu, turut hadir sejumlah pejabat penting. Dari tingkat nasional, tampak Asisten Deputi Pengelolaan Perikanan Tangkap Kemenko Pangan, Yogi Yanuar, Asisten Deputi Pengembangan Produksi Kementerian Koperasi, Elviandi RS, serta Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Pemerintahan Dalam Negeri, Matheos Tan.
Dari Bengkalis sendiri, tampak Wakil Ketua DPRD M. Arsya Fadillah, Kapolres AKBP Budi Setiawan, Dandim 0303 Letkol Arh Irvan Nurdin, Sekretaris Daerah dr. Ersan Saputra TH, jajaran asisten, kepala OPD, para camat, lurah, kepala desa, pimpinan bank dan BUMN, serta tokoh masyarakat, agama, adat, pemuda, hingga perempuan.
Peresmian koperasi ini tidak hanya penting secara administratif, tapi juga strategis secara sosiologis. Di tengah tantangan ekonomi nasional, koperasi desa seperti ini dapat menjadi jangkar stabilitas ekonomi. Ia menambal yang luput dari sistem ekonomi pasar murni: kedekatan, keterjangkauan, dan keberpihakan.
Dengan hadirnya Koperasi Merah Putih di Desa Bumbung, Pemerintah Kabupaten Bengkalis menegaskan keseriusannya membangun model pembangunan yang berakar di desa, namun bergerak serentak secara nasional. Sebuah kerja kolektif, dari Jakarta hingga ke batas kampung.
[pnc/ril]








