Prodesanews.com | Pada masa ketika angin Selat Malaka menjadi penentu arah peradaban, dan laut adalah halaman depan kekuasaan, nama Sang Nila Utama mulai disebut orang. Bukan sebagai dongeng kosong, melainkan sebagai penanda zaman, ketika kuasa lama runtuh, dan yang baru mesti ditanam dari keberanian.¹
Sriwijaya, kerajaan besar yang berabad-abad menambatkan takdirnya pada air dan niaga, perlahan kehilangan cengkeramannya. Pelabuhan-pelabuhan tak lagi tunduk, layar-layar tak lagi berhimpun. Serangan dari seberang samudra dan sengketa dari dalam istana menggerogoti kekuasaan yang dahulu perkasa.² Keruntuhan ini mengubah peta politik kawasan dan mendorong pergeseran pusat-pusat kuasa Melayu di pesisir Sumatera dan kepulauan sekitarnya.³
Dari Palembang, Sang Sapurba berangkat. Ia tidak sendiri. Bersama Demang Lebar Daun dan putranya, Sang Nila Utama, mereka meniti air dengan lancang kuning, perahu kebesaran yang bukan sekadar alat pelayaran, melainkan lambang martabat. Kisah perjalanan ini tercatat dalam Sejarah Melayu, naskah klasik yang memadukan sejarah, tradisi lisan, dan legitimasi politik Melayu.⁴
Bintan menjadi tujuan. Pulau yang dijaga laut dan angin, simpul dagang dan perlintasan orang-orang jauh. Di sana bersemayam Ratu Sri Bintan, penguasa yang memerintah dengan adat dan keseimbangan.⁵ Kedatangan rombongan Sang Sapurba disambut istana, sebagaimana adat Melayu memuliakan tamu yang datang membawa maksud baik.

📸 Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru
Takdir pun bekerja dalam sunyi. Sang Nila Utama dipertemukan dengan Wan Sri Beni, putri sang ratu. Dari pertemuan itu lahir ikatan, bukan sekadar ikatan dua insan, melainkan pertautan dua garis kuasa. Pernikahan dilangsungkan, adat ditegakkan, dan mahkota berpindah tangan dengan restu.⁴
Sang Nila Utama kemudian dimasyurkan sebagai Raja Bintan. Dalam sejumlah tradisi, ia juga dikenal dengan gelar Seri Tri Buana, lambang penguasa agung dalam kosmologi politik Melayu.⁶ Di bawah kuasanya, Bintan tumbuh sebagai pusat maritim, tempat kapal singgah, bahasa bertukar, dan budaya bersua. Selat Malaka menjadi nadi, dan kerajaan hidup dari kecermatan membaca arus.
Dalam Sejarah Melayu, kisah Sang Nila Utama berlanjut hingga Temasek, pulau di ujung Semenanjung yang kelak disebut Singapura. Di sanalah, menurut hikayat, ia melihat seekor binatang yang disangka singa, pertanda kuasa, lalu menamai negeri itu Singapura: kota singa.⁴ Sejarawan modern mencatat bahwa kisah ini bersifat simbolik, sebab singa tak pernah hidup di wilayah ini, namun justru dari simbol itulah lahir legitimasi, nama, dan ingatan kolektif.⁷
Bagi orang Melayu, Sang Nila Utama hadir bukan semata sebagai manusia, melainkan sebagai lambang kesinambungan. Bahwa kuasa boleh runtuh, negeri boleh berpindah, tetapi adat dan jati diri tak boleh hilang. Raja bukan hanya yang memerintah, melainkan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan hukum adat.
Sejarawan modern membaca kisah ini dengan jarak kritis. Derek Heng menilai figur Sang Nila Utama sebagai konstruksi historiografis, perpaduan fakta sejarah dan mitos politik, yang berfungsi memperkuat legitimasi kerajaan-kerajaan Melayu awal.⁷ Namun justru di sanalah nilainya, ia merekam cara orang Melayu memahami asal-usul, kuasa, dan kesinambungan peradaban.
Hari ini, ketika layar-layar telah berganti bangunan dan laut dibaca dari daratan, nama Sang Nila Utama tetap dipelihara. Ia diabadikan sebagai museum di Pekanbaru, rumah bagi ingatan kolektif Bumi Lancang Kuning. Museum Sang Nila Utama menyimpan ribuan koleksi sejarah dan budaya Melayu, dari artefak arkeologis hingga benda etnografi, sebagai penanda bahwa sejarah bukan hanya masa lalu, melainkan penopang identitas hari ini.⁸
Sebab, selama orang Melayu masih menyebut asal-usulnya, selama laut masih dianggap guru, nama Sang Nila Utama akan terus hidup, bukan di batu prasasti semata, melainkan dalam kesadaran akan siapa diri mereka.
Penulis: Areel Al Malay [ril]
Sumber:
1. Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), berbagai edisi dan terjemahan; diakui UNESCO dalam program Memory of the World.
2. Encyclopaedia Britannica, “Srivijaya,” edisi daring terbaru.
3. George Cœdès, The Indianized States of Southeast Asia (Honolulu: University of Hawai‘i Press, 1968).
4. UNESCO, The Malay Annals (Sejarah Melayu), Memory of the World International Register.
5. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, Lintasan Sejarah Kerajaan Bintan dan Riau-Lingga.
6. Ensiklopedia Kerajaan Nusantara, entri “Kerajaan Bentan (Bintan).”
7. Derek Heng, “Sang Nila Utama: Separating Myth from Reality,” BiblioAsia, National Library Board Singapore.
8. Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, profil resmi Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru.








