Prodesanews.com | BENGKALIS –Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi mengumumkan hasil hisab (perhitungan astronomi) terkait penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah/2025 Masehi. Pengumuman ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Yogyakarta pada Rabu (13/2/2025). Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah media massa serta pejabat terkait.
Dalam pengumuman yang dikutip dari laman YouTube Muhammadiyah Channel, penetapan awal bulan-bulan penting dalam kalender Islam ini dilakukan berdasarkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Berdasarkan hasil hisab, 1 Ramadan 1446 H dipastikan jatuh pada hari Sabtu, 1 Maret 2025. Ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan diperkirakan terjadi pada hari Jumat, 28 Februari 2025, pukul 07.46.49 WIB. Pada saat matahari terbenam di Yogyakarta, tinggi bulan tercatat mencapai 4 derajat, menunjukkan bahwa hilal telah wujud di seluruh wilayah Indonesia.
Sementara itu, 1 Syawal 1446 H atau Hari Raya Idul Fitri diprediksi jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025. Ijtimak jelang Syawal akan terjadi pada Sabtu, 29 Maret 2025, pukul 17.59.51 WIB. Namun, pada saat matahari terbenam di Yogyakarta, tinggi bulan tercatat -1 derajat, yang berarti hilal belum wujud pada tanggal tersebut. Dengan demikian, penetapan 1 Syawal tetap dilakukan pada Senin, 31 Maret 2025.
Untuk bulan Zulhijah, 1 Zulhijah 1446 H diperkirakan jatuh pada hari Rabu, 28 Mei 2025. Ijtimak menjelang Zulhijah akan terjadi pada Selasa, 27 Mei 2025, pukul 10.04.18 WIB, dengan tinggi bulan tercatat +1 derajat saat matahari terbenam. Hal ini menunjukkan bahwa hilal sudah wujud, sehingga 1 Zulhijah ditetapkan pada hari tersebut. Adapun Hari Arafah (9 Zulhijah) diperkirakan jatuh pada Kamis, 5 Juni 2025, sementara Idul Adha (10 Zulhijah) akan dilaksanakan pada Jumat, 6 Juni 2025.
Selain mengumumkan hasil hisab, PP Muhammadiyah juga menyampaikan pesan-pesan mendalam kepada umat Islam menjelang bulan Ramadan. Mereka mengimbau agar bulan suci ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas spiritual dan moral, baik dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat dan menjauhi sikap buruk seperti dengki, dendam, dan kebencian.
Lebih lanjut, PP Muhammadiyah menekankan pentingnya puasa sebagai sarana pencerahan rohani yang dapat membawa perubahan positif bagi individu dan masyarakat. Puasa juga diharapkan dapat memperkuat toleransi, persatuan, dan ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman bangsa. Organisasi ini juga mengingatkan umat Islam untuk saling menghargai perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Selain itu, PP Muhammadiyah mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk menyambut bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan semangat. Bulan suci ini tidak hanya menjadi ajang introspeksi diri, tetapi juga momentum untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis, berintegritas, dan bermoral tinggi.(ril)








