BENGKALIS — Nama Bengkalis diyakini memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari kisah runtuhnya Kerajaan Gasib pada abad ke-17, sekitar tahun 1625. Kerajaan yang terletak di hulu Sungai Gasib itu meninggalkan kekosongan kekuasaan, membuka ruang bagi hukum rimba dan kepemimpinan adat. Dalam kekosongan itu, tampil para datuk dari Johor, di antaranya Datuk Bandar Bengkalis dan Datuk Bandar Sabak Aur.
Sebelum dikenal sebagai Bengkalis, wilayah ini disebut Kuala Batanghari, dengan sebuah kawasan kecil bernama Pulau Sembilan. Nama Bengkalis sendiri baru muncul setelah kedatangan Raja Kecil, tokoh penting yang kelak menjadi Sultan Johor. Ia menghilir Sungai Jantan—yang kini dikenal sebagai Sungai Siak—dengan rombongan besar dari Ranah Minang.
Dalam pelayarannya, Raja Kecil sempat berselisih dengan Datuk Bandar Sabak Aur akibat permintaan cukai. Konflik itu menyulut tekad Raja Kecil untuk “mencucup darah” sang Datuk kelak, sebagaimana dikisahkan dalam tradisi lisan. Rombongan kemudian melanjutkan pelayaran ke Kuala Batanghari, tempat mereka disambut Datuk Bandar Jamal setelah melewati proses surah-bersurah sesuai adat setempat.
Selama tinggal di kawasan itu, berbagai peristiwa terjadi. Salah satunya ialah penamaan ikan “teru” yang dijelaskan Raja Kecil sebagai ikan terubuk—ikan khas sungai Bengkalis yang ditangkap dengan tali dari purun. Raja Kecil juga menyebut nama tanjung di seberang sebagai Tanjung “Ja”, yang kemudian ditafsirkan sebagai Tanjung Jati oleh Bunda Dalam, penasihat istana Johor.
Setelah naik takhta sebagai Sultan Johor, Raja Kecil mengutus perwakilan ke Kuala Batanghari untuk menetapkan perubahan nama wilayah tersebut menjadi Bengkalis. Nama itu berasal dari ikan dan pohon “Bengkalis” yang hanya ditemukan di sekitar sungai tersebut. Sekaligus, pulau dan selatnya pun dinamakan Pulau Bengkalis dan Selat Bengkalis.
Kisah ini dikisahkan oleh Jasman K, seorang guru yang mendokumentasikan berbagai versi oral, naskah lama, dan tradisi lisan Melayu, termasuk “Syair Ikan Terubuk”. Cerita ini menjadi salah satu narasi penting dalam sejarah lisan masyarakat pesisir Riau.








