PRODESANEWS COM | RENGAT – Empat putra-putri terbaik asal Kabupaten Bengkalis mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat provinsi. Mereka resmi dilantik sebagai pengurus Forum Anak Provinsi Riau periode 2025–2027 dalam upacara pelantikan yang digelar di Lapangan Terbuka Hijau Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Rabu, 23 Juli 2025. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Gubernur Riau Abdul Wahid dan disaksikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifah Fauzi.
Forum Anak Provinsi Riau merupakan wadah aspiratif bagi partisipasi anak-anak dalam pembangunan yang ramah anak. Keikutsertaan empat anak Bengkalis di struktur pengurus provinsi tidak hanya mencerminkan keberhasilan individu, tetapi juga menunjukkan arah pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Bengkalis yang makin progresif dan berkeadilan. Keempat nama tersebut adalah Rahma Auliya yang dipercaya sebagai anggota fasilitator Forum Anak Riau, Balqis Nur Febriyanti di posisi devisi pengembangan potensi anak, Wikel Nopiantoro sebagai wakil koordinator I fasilitator Forum Anak Riau, dan Peter Y. P. Sipahutar sebagai anggota fasilitator. Mereka adalah hasil seleksi ketat yang melibatkan ratusan peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Bengkalis, Emilda Susanti, mengungkapkan kebanggaannya atas capaian tersebut. Ia menyebut bahwa prestasi ini merupakan indikator keberhasilan pembinaan anak dan remaja yang telah dilakukan selama ini, baik melalui Forum Anak tingkat kabupaten maupun berbagai kegiatan pengembangan karakter dan kepemimpinan anak. “Kami bangga. Ini menjadi bukti bahwa anak-anak Bengkalis memiliki kapasitas untuk berbicara dan bertindak di tingkat yang lebih tinggi. Kami akan terus mendampingi dan memfasilitasi agar potensi mereka berkembang secara optimal,” katanya.
Ucapan selamat juga datang dari Bupati Bengkalis Kasmarni melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Johansyah Syafri. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pelantikan ini bukan sekadar simbolik, melainkan penegasan akan pentingnya keterlibatan anak dalam ruang-ruang strategis pembangunan. “Selamat dan tahniah kepada anak-anak kami yang telah dipercaya menjadi pengurus Forum Anak Provinsi Riau. Ini adalah amanah besar. Kami percaya mereka mampu menjunjung tinggi suara anak dan membawa nilai-nilai kebaikan dalam forum ini,” ujar Johansyah.
Keberadaan Forum Anak memiliki posisi strategis dalam sistem pembangunan yang responsif terhadap kebutuhan anak. Mereka tidak hanya dilibatkan dalam kampanye sosial dan kegiatan edukatif, tetapi juga memiliki ruang formal dalam penyusunan rencana pembangunan daerah melalui forum seperti Musrenbang Anak. Forum ini turut menjadi garda terdepan dalam isu-isu perlindungan anak, kesehatan mental, anti-perundungan, literasi digital, hingga kampanye kesetaraan.
Dengan struktur baru yang lebih dinamis dan inklusif, pengurus Forum Anak Provinsi Riau periode 2025–2027 dirancang untuk membawa semangat kolaboratif lintas daerah. Anak-anak dari berbagai latar belakang budaya dan sosial dirangkul dalam satu visi besar: membentuk masa depan yang lebih aman, adil, dan ramah bagi generasi muda. Dalam konteks ini, empat anak Bengkalis memiliki peran penting sebagai duta daerah yang menyuarakan kepentingan anak-anak dari wilayah pesisir, perdesaan, dan minoritas.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis sendiri selama ini telah menunjukkan komitmen kuat terhadap agenda perlindungan anak. Berbagai program seperti pembentukan Pusat Pembelajaran Anak dan Remaja (PPAR), penguatan Forum Anak tingkat desa, pelatihan konseling sebaya, hingga pembinaan sekolah ramah anak terus digalakkan. Targetnya bukan hanya memenuhi indikator administratif menuju predikat Kabupaten Layak Anak, tetapi juga memastikan bahwa seluruh anak memiliki ruang aman untuk tumbuh, berpendapat, dan berpartisipasi.
Pelantikan ini menjadi momen penting yang menegaskan arah baru partisipasi anak dalam demokrasi lokal. Anak-anak tidak lagi diposisikan sebagai objek perlindungan semata, melainkan sebagai subjek aktif yang berdaya, kritis, dan mampu memengaruhi kebijakan. Dalam diri Rahma, Balqis, Wikel, dan Peter, harapan itu kini hidup—menyala di tengah semangat kebangkitan generasi muda Bengkalis yang tidak hanya pandai berkata, tapi juga siap bertindak.
[pnc/ril]








