Jika Benar Ikuti Jika Salah Luruskanlah

Oleh: redaksi Opini | Jumat, 07 Mei 2021 - 08:27:27 WIB

Jika Benar Ikuti Jika Salah Luruskanlah

Oleh ; Bagus Santoso ( Wabup Bengkalis)

"Aku hanyalah manusia biasa dan aku bukanlah manusia yang terbaik di antara kalian. Apabila kalian melihat perbuatanku benar, maka ikutilah aku. Tapi bila kalian melihat perbuatanku salah, maka luruskanlah" (Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq)

Nukilan kata bernas diatas merupakan isi pidato Abu Bakar seusai dibaiat resmi diangkat menjadi Khalifah. Sebagaimana diketahui Nabi Muhammad SAW meninggal dunia pada 2 Rabiul Awal 11 Hijriyah tanpa meninggalkan wasiat kepada para sahabat untuk meneruskan kepemimpinannya.

Masa itu setelah Nabi wafat, Muncul tiga kelompok yang bersaing keras terhadap perebutan kepemimpinan yaitu Anshar, Muhajirin dan keluarga Hasyim.

Pada acara pertemuan di balai Bani Saidah di Kota Madinah, kaum Anshar mencalonkan Saad bin Ubadah pemuka Kazraj sebagai pemimpin. Sedangkan, Muhajirin mendesak Abu Bakar sebagai calon mereka karena dipandang paling layak untuk menggantikan kepemimpinan nabi.

Di lain pihak, terdapat sekelompok orang yang menghendaki Ali bin Abi Thalib, karena nabi telah merujuk secara terang-terangan sebagai penggantinya, di samping Ali merupakan menantu dan kerabat nabi.

Puncaknya, tercatatlah dalam sejarah, estafet kepemimpinan mulus ditempuh dengan damai jalan musyawarah mufakat. Dengan mengusung semangat sesama muslim adalah saudara, maka terpilihlah Abu Bakar.

Abu Bakar adalah orang Quraisy yang merupakan pilihan ideal karena sejak pertama menjadi pendamping nabi, ia sahabat yang paling memahami risalah Muhammad, bahkan ia merupakan golongan as-sabiqun al-awwalun yang memperoleh gelar Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dan inilah pidato lengkapnya; Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutlah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah! Orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengambil hak dari padanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya. Maka hendakklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun bila mana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu tidak perlu mematuhiku. Berdirilah (untuk) shalat, semoga rahmat Allah meliputi kamu."

Pidato Abu Bakar 250 tahun silam bukan sekedar retorika, sebab pidato tersebut diucapkan setelah terpilih bukan pidato masa kampanye yang mendagangkan janji. Inilah pidato pemimpin sebagai gantlemen agreement yang mengandung dan makna penuh konsekuensi di dalamnya.

Sayyidina Abu Bakar tampil berpidato sedemikian mulia, karena ia telah melalui kaji algoritma. Seni memimpin logis untuk menyelesaikan suatu masalah. Abu Bakar sosok pemimpin lurus bijaksana jauh dari sifat dramaturgi.

Bedakan dengan pemimpin penganut demokrasi yang berkiblat Dramatugi Erving Goffman. Bahwa manusia merupakan aktor yang menampilkan segala sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu melalui drama yang dilakukannya.

Pemimpin masa demokrasi cenderung menganut teori dramatugi. Dikarenakan berbagai faktor teknis dan non teknis yang menjeratnya. Maka untuk mencapai tujuan, dengan kegiatan interaksi satu sama lain sama halnya dengan pertunjukkan sebuah drama.

Sahabat Abu Bakar berani bertaruh diri
berpidato yang isinya merugikan dirinya, membatasi kekuasaannya, karena ia telah katam menjelajah kehidupan langsung bersama Nabi. Otomatis lika liku menjadikan algoritma bekal sebagai seorang pemimpin.

Pertama Abu Bakar tampil di area publik sebagai pemimpin berwajah asli, bukan wajah panggung yang diistilahkan dengan front region. Abu Bakar menjauhkan diri dari subjektivitas, pencitraan bahkan setting atau buatan untuk kepentingan panggung.

Kedua tampil apa adanya dengan wajah front personal yang lebih objektif. Wajah untuk keperluan personal, dan karenanya berkekalan alias limited. Ia pemimpin dengan watak asli tak segan berbentuk profan. Karena asli, maka abadi. Karena berjalan apa adanya menjadikan makna mendalam bahwa merakyat tak dapat dibuat buat.

Abu Bakar sejak di baiat, detik itu juga mengikat dirinya kepada publik. Membatasi sendiri kekuasaannya. Ia membuka diri menyeru umat untuk meluruskan tindakannya. Semua orang tahu apa yang terjadi pada sesuatu jika diluruskan.

Kalau ia sudah kadung mengeras, maka akan patah. Dan itu pasti akan sakit sekali. Kalau sudah terlanjur biasa dilayani, maka akan tak enak sama sekali jika limit jabatan terhenti. Dan Abu Bakar sangat siap dan paham akan semua itu.

Maka patut dijadikan renungan diri, mengapa pidato pelantikan Sahabat Abu Bakar kala itu dilafaskannya penuh kesungguhan di depan umat. Karena ia dapatkan jabatan khalifah itu dengan logaritma-nya yang benar.

Ia memulai dari nilai yang mulia, melalui proses yang lazim dan lurus, Ia tidak menggunakan wajah panggung, karenanya tak perlu menyikut serta kedap bisikan sesat.

Ya Allah Tuhan pemilik kekuasaan bimbing dan permudah segala urusan kebaikan hambamu. Sejujurnya bagi penulis Algoritma adalah takaran jabatan. Siapapun pemimpin tidak akan sanggup mengucapkan sebagaimana Sahabat Abu Bakar.(***/Budi)

  Print Berita

Redaksi menerima kiriman berita dan foto. Bagi yang berminat silahkan kirim berita dan foto Anda ke email:[email protected]

Komentar

Komentar Facebook