PRODESANEWS COM | BENGKALIS – Sektor Usaha Mikro Kecil Ekonomi Menengah (UMKM) menghadapi berbagai masalah disebabkan melonjaknya harga bahan makanan terutama bahan baku produksi, akibat dari kenaikkan tersebut menjadi dilema bagi pengusaha UMKM, antara menaikkan harga atau mengecilkan porsi produk.
Meski dirasa berat, kondisi tersebut masih dapat dijalankan seperti biasanya oleh pabrik roti Nadia Bakery, beralamat di Desa Pedekik, Jl. Kh Abdurrasyid Kecamatan Bengkalis. Pabrik roti Nadia Bakry biasa memproduksi 200 hingga 300 pak roti dalam sehari.
“Alhamdulillah, usaha roti kami meski ditengah kenaikan harga bahan baku yang naik hampir seratus persen, kita masih bertahan. Omzet penjualan sebulan sekitar Rp30 juta”, ujar Zainuri, pemilik usaha Roti Nadia Bakery, Selasa, (26/7/2022). di Desa Pedekik.

Zainuri menambahkan, bahan baku naik sampai seratus persen, harga Tepung Terigu dari Rp 190.000 naik menjadi Rp 275.000, Mentega dari Rp 140.000 per kilo menjadi Rp 300.000, dan Susu dari Rp 9.000 perkaleng sekarang sudah Rp 13.000, jelas Zainuri.
Kenaikan bahan baku tersebut dirasakan begitu berat untuk keberlansungan usaha pabrik roti yang telah lama Zainuri rintis. Menyiasati hal tersebut dan menjaga agar rotinya tetap ada dipasaran serta para pelanggannya tetap setia, Zainuri harus menggunakan cara efektif, salah satunya dengan mengurangi porsi dan besarnya roti Nadia Bakery.
“Pengaruh naiknya bahan baku terhadap pendapatan sangat besar, keuntungan menjadi tipis, omzet yang kita putar tiap bulan hanya untuk memutarkan kembali modal usaha. Jadi salah satu cara, kita lakukan dengan mengurangi porsinya menjadi lebih kecil ini dilakukan agar usaha ini tetap berkelanjutan,” ucapnya.

Tentang jenis roti yang ia produksi adalah berbagai jenis roti selai, roti kukus aneka rasa, roti basah untuk burger, dengan harga bervariasi mulai Rp 2.000 hingga Rp 6.000.
Zanuri juga mengatakan, dalam pembuatan roti ini masih dilakukan secara manual, sehingga hasil produksi masih belum begitu maksimal. Sebenarnya telah ada beberapa alat yang diberikan Karya Mahasiswa dari Politeknik berupa alat cetak roti, namun masih belum maksimal bahkan alat tersebut tidak digunakan.
“Saya berharap ada alat yang lebih canggih yang dapat digunakan untuk mempercepat proses produksi,” harapnya.

Sambung Zainuri, Selain harga bahan baku dan alat produksi, Listrik PLN yang sering mati juga ternyata menjadi persoalan baru. Ia mengaku, disebab mati lampu hasil produksinya menjadi kurang baik.

Foto : Kepala Bidang (Kabid) Industri, Yuliana Eka Safitri.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Perekonomian dan Perindustrian (Disperindag) melalui Kepala Bidang Industri, Yuliana Eka Safitri mengatakan, sebagai tahap awal akan melakukan kunjungan kelapangan untuk melihat lebih dekat mengenai kondisi yang sedang dihadapi Industri Kecil Menengah (IKM), selajutnya akan melakukan pembinaan bahkan bantuan sesuai peraturan yang ada.
“Terima kasih info yang disampaikan kepada kami, terkait UMKM itu tupoksi diskop UKM, masalah produksi menurut saya tidak ada masalah, tetapi terkait upaya dari Perindag pada tahap awal kami perlu turun kelapangan dulu klarifikasi masalah IKM nya, memberikan pembinaan, kalau memungkinkan diberi bantuan akan kami bantu sesuai peraturan perundangan, yang mana pemberian bantuan sekarang kita mengacu pada prosedur yang tertuang dalam perbup 44 tahun 2021,” ujar Yuliana.
Ia juga mengatakan, Pemerintah Daerah saat ini sangat memberikan ruang dan perhatian terhadap pembinaan pelaku Industri Kecil dan Menengah sesuai Perbup tersebut diatas.
Menyangkut persoalan kelonjakan harga itu tidak menjadi kewenangan saya menjawab di bidang industri.
Yuliana juga berharap Industri Roti Nadia Bakery yang merupakan IKM dan pernah mendapat penghargaan dari Disdagperin agar tetap optimis dan terkait harga mudah-mudahan cepat stabil kembali.(ra)








