Membangun Generasi Islami Berperadaban

Oleh: redaksi Opini | Jumat, 16 Maret 2018 - 11:46:38 WIB

Membangun Generasi Islami Berperadaban

Drs H. Anwar Thaib (Wakil Ketua DPH LAMR Kec. Bengkalis)

Sungguh peradaban islam sudah tampak jelas, diakui diterima umat apalagi generasi bangsa ini telah menempatkan pula, bahwa bangsa dan negera ini tumbuh berkomitmen memproklamasikan NKRI atas berkah dari Yang Maha Kuasa.

Peradaban mana diantaranya dapat dibuktikan dan telah dirasakan anak generasi ini yang senantiasa turun naik haji, umroh ke Tanah Suci Mekah Al Mukarramah baik itu dari kelompok haji reguler apalagi haji plus dengan unit kos yang cukup dari nilai berperadaban (berharga bagaikan emas). Berkembangnya peradaban diikuti pula marak berkembangnya travel umroh haji melakukan perjalanan ibadah, wisata ziarah yang dapat dijalani kapan saja dan oleh siapapun juga. Kesempatan bergengsi dan bernilai ibadah ini sungguh diikuti generasi bangsa, berangkat bersama anak keluarga, menantu dan cucu.

Suara indah dan merdu mereka telah teraplikasi dan tertanam dalam pengamatan mereka bahwa Mekah, Madinah dan Jeddah bagaikan indah mercusuar yang tidak terbayangkan dan tersaingi. Apalagi bila kita persamakan juga dengan Istambul di Turki dan lain-lainya. Kebenaran ini mengundang semangat penulis H. Anwar Thaib yang pernah mengenal Mekah dan Madinah di tahun 2000. Ternyata suara indah mereka-mereka ziarah umrah, penulis nikmati pula yang baru saja pulang pada 17 Februari 2018 ini.

Nikmat dan suara indah ini benar, diakui dan diterima juga terungkap dalam tulisan terdahulu dengan judul “Bersyukurlah Dibalik Kesyukuran Orang-Orang Yang Bersyukur” artinya apa bahwa nilai baik dari suara indah mereka, untuk dirinya namun membangkitkan semangat orang lain. Penulis ikut menerima dan menjalani perjalanan itu, paket selama 12 hari bersama travel RWH (Riau Wisata Hati) Pekanbaru. Inilah  nikmat dan bersyukurlah kita orang-orang yang berkesempatan mengikuti perjalanan itu.

Kesyukuran yang dilalui dan suara indah mereka yang berkesempatan umrah, benar memberikan bukti nyata mengakui peradaban ini, itulah ilmu dan berfikir, bersama dalam hukum agama. Tujuh belas atau delapan belas tahun yang lalu berjalan dari tahun 2000 budaya ini menghasilkan perkembangan perubahan Mekah, Madinah megah berdiri bangunan, indah menjulang tinggi, jalan dan terowongan lintas adalah nilai yang harus diterima, di klarifikasi generasi nampak dalam Kuasa Yang Maha Kuasa.

Perjuangan Nabi juga membuktikan, 23 tahun kerasulannya dapat membangun peradaban manusia dunia. Sungguh, peradaban ini relatif singkat punya makna apa dibalik itu, pertanyaan besar generasi bagaimana ini terjadi. Apakah Yang Maha Kuasa memberikan ini hanya untuk Mekah mungkinkah Bengkalis negeriku yang sampai hari ini masih bagaikan pasar seng Mekah dulu begitu juga pasar disepanjang perjalanan Pemakaman Baki di Madinah. Kini pasar seng yang dikenal dulu dan pasar di perjalanan Pemakaman Baki tidak lagi ditemui berubah megah, jalan lingkar menjauh memperlebar hamparan halaman Mesjid Nabawi, toko-toko, mall sedangkan tingkat atas bangunan merupakan ruang kamar hotel, mata lepas menikmati arah panorama budaya alam Mekah mengelilingi Masjid di Madinah maupun di Mekah. Kemajuan ini tergambar didalam mading lift Hotel Pullman Zamzam Mekah.

Gambar ini menampilkan peradaban yang dijalankan 17 atau 18 tahun yang lalu, menargetkan perkembangan Mekah Madinah juga lingkungan sekitarnya. Bangunan lama tidak satupun kelihatan melainkan bangunan baru menjulang tinggi dengan pepohonan memainkan sirkulasi udaranya. Begitulah peradaban dan berpikir generasi itu, tidak dapat kita bayangkan bahwa manusia, peradaban dan nikmat ini ada dalam Kuasa Yang Maha Kuasa yang dalam petunjuknya “Bahwa kesempurnaan iman itu bila ada rasa malunya terhadap Yang Maha Kuasa”. Kita-kita yang malu merasa menerima dan bagaimana mereka yang sama sekali belum mengakui menerima dan berbuat. Hanya Yang Maha Kuasalah yang tahu dan mengingatkan kita. “Jangan kamu campurkan kebenaran dan kebathilan dan jangan kamu sembunyikan kebenaran itu sedangkan kamu orang-orang yang mengetahui”. Dalam petunjuk lain dikatakannya “Adakah sama orang-orang yang memberi air dan memperbaiki Masjidil Haram  dengan mereka yang beriman pada jalan Allah ... sama sekali tiadalah sama mereka itu di sisi Allah”. Artinya iman itu sungguh harus tertanam dalam hati manusia ini.

Kesan peradaban yang diterima dan diamati mengandung makna serta membuka berpikir ini di interpretasi,  memotivasi generasi apa yang dapat dibayangkan, dihubungkan dan harus dilakukan menyangkut perjuangan generasi negeri ini mencapai peradabannya.

  1. Alhamdulilah Jumat 17 Februari 2018 penulis sampai lagi dan mendarat di Singapura dan Pekanbaru. Tanggal itu genap usia keluarga ini 40 tahun dengan umur 70 tahun lahir di masa agresi Belanda tahun 1948. Peradaban dan berpikir ini bagaikan julukan nilai kristalisasi keluarga ini; Keluarga Emas begitu juga pada posisi tugas kerja 38 tahun masa dinas dalam kategori Setia Lencana Emas walaupun tidak diterima, sedangkan teman-teman Perak, Perunggu megah mendapatkan keadaan ini. Alhamdulilah bagiku inilah nikmat. dan sadarilah bahwa ini ada dalam petunjuknya yang katanya “Cukuplah Yang Maha Kuasa itu bagiku dan tidak ada Tuhan lain selain dia, kepadanya aku bertawakal dan dia Tuhan Arash di Alam Semesta lagi Maha Agung”. Dalam hal ini sadarlah bahwa umur ini hendaknya dibaringi pengakuan atau tawakalnya manusia.
  2. Peradaban yang diterima diinterpretasi, dianalisis mencapai pemahaman berbuatnya generasi. Landasan ini jelas dalam petunjuk sejarah islam menerangkan “Bahwa kerasulan Nabi dijalani dari umur 40 tahun”ada batasan yaitu matang, layak, mampu dan dipercaya. Dari kerasulan itu dan berpikir manusia ini beliau telah menggariskan dan menyampaikan buat kita semua “Barang siapa masuk usia 40 tahun kebaikannya belum dapat mengalahkan sifat keburukannya lemparkan saja mereka kedalam neraka”. Artinya apa, tidak seharusnya lemah kita itu senantiasa dan bagaimana berbudaya, berkembangnya peradaban berpikir yang juga telah dibekali di oleh Yang Maha Kuasa.
  3. Peradaban yang diterima dipertanggungjawabkan yaitu kita tahu dan mengenal besarnya kuasa Yang Maha Kuasa artinya bagaimana berpikir generasi yang telah dituntun ilmuwan, menjadi generasi yang berhasil. Pandangan agama menuntun manusia menjadi menang melalui : iman, beribadah, dijalankan dengan benar dan sabar. Kemenangan ini tercapai bila generasi berbuat, berusaha dengan rasa ikhlas, apalagi manusia itu dalam kelemahan banyak berharap tentu dengan izinnya yang kuasa, yang katanya “Berbuatlah dengan minta ampun mudah-mudahan ada rahmat berkah dan ridho dari Yang Maha Kuasa”. Kita-kita yang dalam batas 40 tahun ini bagaimana membawa generasi senantiasa berbuat berharap berhasil yang didasari dari doa kita “Jauhkanlah kami dari kejelekan di masa tua kami”. Artinya bisa saja berhasil terpuji ada nilai keteladanan, guru buat yang lainnya dan orang lain memperoleh manfaatnya. Pandangan Islam dan peradaban ini mengajarkan hidup manusia, yang katanya “Sebaik-baik manusia itu orang yang paling bermanfaat buat manusia lainnya”. Inilah bagian makna jauhkanlah kami dari kejelekan itu.

Mencapai peradaban itu kita generasi bertanggung jawab, mari kita lakukan penguatan untuk anak generasi ini. Mencoba mengembangkan peradaban itu, bagaimana kita sadar bahwa kita belum maksimal melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan dan malah mengabaikan, sehingga terjadi ketidakseimbangan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan generasi yang akhirnya masih memerlukan gerak langkah pendidikan apa, yang diharapkan mencapai peradaban itu yaitu karakter anak generasi ini. Sesungguhnya ini ada dalam kelompok pendidikan apa yang dinamakan pendidikan informal, non formal yang dipaparkan Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan teorinya Tri Pusat Pendidikan yang merupakan sendi, sumber daya upaya memancarkan, mentransfer nilai-nilai pendidikan generasi ini.

Peradaban generasi akan terwujud dengan melaksanakan teori Ki Hajar Dewantara walaupun sedikit telah terabaikan. Kepada kita bagaimana menelusuri kembali yang seharusnya menjadi tolak ukur kedepan yaitu pendidikan informal dan non formal disamping pendidikan formal mutlak, untuk lebih menjadi kepedulian generasi ini. Kita harus mengakui bahwa penerimaan sasaran pendidikan itu adalah pada posisi hidupnya generasi (personal) dan berharap personal yang mempunyai personaliti, moraliti artinya generasi ini menjadi titik objek pelaku yang harus diperdayakan mencapai peradaban itu. Yaitu dalam lingkungan kehidupan baik dirumah dan tetangga lingkungan dengan bersama-sama.

Dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan bentuklah unit pelaku terkecil dan kelompok yang dibebankan dengan tanggung jawabnya. Pihak pemanfaatan dan stockholder diminta membina, memotivasi, mengawasi, diantaranya mereka itu boleh saja dari kelompok lembaga desa, apakah itu LAMR Desa, Ikatan Persaudaraan Haji serta yang paling utama dan berperan penuh adalah RT, RW dan pengurus masjid dilokasi kegiatan yang dilakukan.

Kegiatan ini mengembangkan berpikir generasi, yaitu individu yang sadar, menerima diri berbuat untuk lebih positif sebagai orang yang berperadaban. Boleh saja dilakukan berupa ceramah, diskusi apakah itu dikelompok remaja, ibu, orang tua. Bentuk lain seperti pendidikan Fokasional dan informasi-informasi, apalagi terkait menangkal kenakalan remaja dan narkoba, membentuk moralitas generasi (tunggu disiapkan koordinator). mengembangkan peradaban ini sudah dipersiapkan Yang Maha Kuasa berupa biologis kejiwaan dan kita tinggal bagaikan membuka daftar menu yang ada pada hp.

 Menyangkut unit kos kegiatan secara umum generasi tahu bahwa dana pendidikan ada 20% dari anggaran. Desa juga memiliki dana ADD dan lainnya 1–5 milyar per tahun. Pihak mengetahui dan berkompeten yang memikirkan bentuk pendidikan karakter rasanya tepat melakukan bentuk ini dengan menggunakan dana desa dimana generasi itu berada. Penggunaan itu juga dengan ketetapan yang dibaringi petunjuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Terhadap efektivitas dan prioritas juga merupakan keputusan bersama diolah dengan argumentasi bukan mengesahkan rencana yang telah dibuat tim perencana. Tertumpanglah kepada stakeholder yang ada sebagai pengguna. Sungguh pandangan agama memberi jalan akan berpikir kita bagaikan doa yang katanya “Sekiranya hidup itu baik bagiku hidupkanlah aku, dan sepanjang mati itu lebih baik maka matikanlah aku dalam iman”. Artinya ada pencapaian yang bermanfaat bagi generasi bukan, bagaikan penyelesaian bangunan yang sampai batas penyelesaianya.

Pelaksanaan kegiatan yang dapat dilakukan membangun generasi islami berperadaban ini boleh dicoba melalui langkah-langkah :

  1. Aktifkan dan fungsikan kembali remaja masjid, karang taruna, kelompok kesenian olahraga, budaya, diskusi dan pengajian ceramah di desa-desa.
  2. Kegiatan masjid dan kegiatan generasi islam berperadaban, masyarakat ada dalam tanggung jawab bersama pengurus masjid, RT, RW dan kelompok penanggung jawab /koordinator kegiatan generasi ini
  3. Setiap generasi warga masyarakat tidak terkecuali ikut dalam kegiatan ini bahwa mereka berpengaruh membangun generasi, yaitu anak generasi mereka rumah tangga mereka artinya ada kesepakatan bersama yang disetujui dalam rapat RT, RW dan ada ikatan sanksi akan ketidakikutsertaan generasi dan masyarakat ini.
  4. Tumbuhkan penerimaan berpikir generasi, bahwa kegiatan ini membuahkan pengetahuan, persaudaraan ada tanggung jawab besar didepan kehidupan mereka, apakah bersama hari ini begitu juga generasi mereka atau anak cucu kedepannya.
  5. Kegiatan, pertemuan, pembinaan mengembangkan sifat keterbukaan, generasi berperan membentuk kerjasama bersaudara dan kebersihan hati, ikhlas dan nilai hidup islami serta karakter generasi yang bemoral mendukung budaya masyarakat dan nilai – nilai kearifan lokal bangsa ini.
  6. Pihak berkompeten dalam kegiatan ini memotivasi, memberikan nasihat baik material, spritual ikut bersama kiranya kegiatan ini menjiwai bagi generasi.
  7. Generasi mengikuti dengan sungguh merasa terbawakan berbuat lebih menerima dan bagaimana merealisasikan pengetahuan ini dalam kehidupan sosial, apakah sifat sopan, ramah dan lain-lain bersahabat menyatu dalam kelompok bergotong royong dan bertanggung jawab akan negeri ini bangsa dan negara tercinta.
  8. Koordinator pelaksana hanya berumur 1 tahun Masa pertanggung jawaban kerja tahun itu langsung memilih koordinator baru tahun berikutnya. Setiap generasi berhak menerima, mendapatkan tugas sesuai hasil rapat pertanggung jawaban.
  9. Prioritas dan hidup bersama, dituakan, berperan menumbuhkan sifat memiliki generasi, menyayangi akan diri dan keluarga, negeri, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mudah-mudahan membangun generasi ini bersama dalam hidup mereka dan menjadi tanggung jawab kita yaitu bagaimana mereka berhasil berperadaban bagaikan keteladanan kita, masyarakat demikian juga pemerintah merealisasikan doa ”Jauhkanlah kami dari kejelekan di masa tua”. artinya ada manfaat, dapat mengantar generasi ke kehidupannya yaitu generasi berperadaban satu dalam bahasa, agama, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maaf, kami tahu bahwa tuan-tuan pada posisinya bersamalah bermusyawarah menyelesaikan apapun kegiatan itu sesuai hubungan sila demi sila dalam Pancasila bagaikan ekosistem kehidupan ini.

 

Bengkalis pusat budaya

Generasi hidup berbahasa dan beragama

Generasi dibina hidup berharga              

Kelak keturunan hidup berbahagia

 

Rampai Berpikir Majukan Negeri Buku 5

Oleh : Drs H. Anwar Thaib (Melayu Bengkalis)

 

 

                                                                                        

  Print Berita

Redaksi menerima kiriman berita dan foto. Bagi yang berminat silahkan kirim berita dan foto Anda ke email:prodesanews@gmail.com

0 Komentar

Tulis Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Komentar Facebook