Sosialisasi Keberadaan LAMR Memperkuat Nilai Kearifan Lokal Kelurahan dan Desa Kecamatan Bengkalis

Oleh: redaksi Opini | Jumat, 05 Januari 2018 - 15:50:36 WIB

Sosialisasi Keberadaan LAMR Memperkuat Nilai Kearifan Lokal Kelurahan dan Desa Kecamatan Bengkalis

Drs H. Anwar Thaib (Wakil Ketua DPH LAMR Kec. Bengkalis)

A. Dasar

1. LAMR telah diterima pemerintah sejak Tahun 1970 sebagai mana hasil musyawarah cerdik cendekiawan tokoh masyarakat daerah ini, baik ditingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan begitu juga Kelurahan, Pedesaan, di Wilayah Provinsi Riau.

2. LAMR yang telah berjalan ini telah pula ditetapkan sebagai organisasi kemasyarakatan  dengan Perda Provinsi Tingkat 1 Riau Nomor 1 Tahun 2017.

3. Perda ini memperkuat tugas dan fungsi LAMR, berusaha mensosialisasikan ke kelurahan desa. Kecamatan Bengkalis sesuai hasil pertemuan LAMR Kecamatan Bengkalis bersama penghulu adat pedesaan telah dirumuskan pada tanggal 29 November 2017.

B. Pelaksanaan Sosialisasi

1. Sosialisasi ini dalam rangka mengembalikan pemahaman dan tanggung jawab LAMR akan masyarakat, yaitu menjalani kehidupan budaya dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat desa berupa pertemuan, dialog atas apa yang dilakukan generasi masyarakat ini, baik itu dalam hubungan perencanaan, evaluasi akan nilai-nilai budaya.  Sesungguhnya ini telah terlihat dari kebiasaan  nilai-nilai adat budaya melayu yang dipandang lemah. Bahwa adat melayu bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitabullah.

2. Mengembangkan berpikir masyarakat apakah ini perlu ditindaklanjuti atau tidak, namun kebudayaan ini sudah tampak nilai-nilai kritis,  meninggalkan khazanah, tetua melayu, normatif adat, bagaikan prilaku menyimpang. Mengatasi ini pemerintah melalui pendidikan mencoba menerapkan pendidikan karakter. Terhadap hal itu, penulis mencoba memberikan masukan menyampaikan, yaitu berusaha membuka pandangan bersama memberikan sumbangan kepada pemerintah bagaimana membuat keputusan apa yang harus dilakukan. Berbuat dan  menerima masukan-masukan dalam kehidupan ini tidak terlepas dari kita semua, bersama berdampingan dan gotong royong sebagaimana Bapak Proklamator Ir. Soerkarno Hatta menegak bangsa dan negara ini.

C. Harapan Sosialisasi Ini

Menjembatani konsep-konsep masyarakat, pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, yang dapat diterapkan sebagai nilai-nilai normatif masyarakat dan generasi melayu bangsa ini.

2. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat, generasi akan krisis kehidupan yang terjadi menjadi suatu nilai budaya yang dianut, diikuti, hidup sebagai sosok budaya yang diterima dibanggakan terbangun dari nilai kearifan lokal masyarakat lingkungannya.

3. Tumbuhnya pemahaman masyarakat, generasi yang kuat melahirkan kemampuannya secara positif, lepas dari yang buruk berupa keteladanan, moral, budi pekerti (akhlak), sopan santun, yang diikuti dan dilakukan sebagai prilaku kehidupan generasinya.

4. Memperkuat sifat persaudaraan, persatuan, kegotoroyongan berperan dengan kepeduliannya menyelamatkan kehidupan dengan berkomitmen sebagai masyarakat yang memiliki hidup budayanya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

D. Materi Dalam Perspektif Peserta

1. Menyatukan persepsi dan pengertian bahwa LAMR ini, bukan saja keterkaitan akan adat pernikahan, melainkan nilai budaya dan kebudayaan hidup manusianya. Sedangkan Adat disini maksudnya kebiasaan prilaku manusia, masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup, mengaktualisasi diri memperoleh apa yang diharapkan masyarakat. Dalam kesehariannya satu sama lainnya pengaruh mempengaruhi  sebagaimana hidupnya alam semesta ini.

2. Kehidupan budaya diartikan budi daya, pemikiran, atau pola pikir yang sekarang diungkap dengan kearifan lokal. Kebiasaan atau budaya ini adakalanya ditinggalkan. dilestarikan begitu juga dikembangkan. Budaya yang ditinggalkan karena dirasakan tidak cocok lagi dengan norma-norma kehidupan, situasi dan kondisi yang menjauh dari nilai-nilai kehidupan beragama.

E. Materi Pengembangan Sosialisasi

1. Sosialisasi ini penulis kembangkan pada pandangan umum dan secara teknis adat pernikahan, disampaikan pada materi-materi berikutnya.

Kehidupan sebagaimana kebiasaan-kebiasaan masyarakat menyatu sebagai keseluruhan bukan sendiri-sendiri, berkaitan secara simetrik sesama begitu juga dengan alam apakah itu flora fauna dan atmosfir lingkungan kehidupan ini. LAMR berfungsi memilihara menserasikan bila dipandang adanya yang salah, lemah diperbaiki atau dibuang artinya ada yang tidak perlu diikuti jauh dari nilai-nilai moral yang didisepakati. Dari sisi ilmu generasi ini adalah para lulusan, apalagi dibantu dengan berkembangnya TI (Teknologi Informasi). Memperbaiki ini perlu memperkuat pandangan generasi masyarakat tentu dengan strategi kehidupan yaitu “Belajar Mengajar”. Banyak literatur menuntun sebagai landasan hukum budaya ini. Dalam hal ini diantaranya dari Sabda Nabi yang artinya “Bila Terbit Matahari Hari ini tidaklah bertambah ilmuku tidaklah ada artinya terbitnya matahari itu bagiku”. Mendasari belajar mengajar ini para ilmuan meletakkan pada prinsip pesertanya yaitu sifat sadar, aktif-kreatif, kerja keras, menyatu dengan sifat konsekuen percaya diri dan punya tendensi utama yaitu Disiplin Diri. Belajar mengajar yang dilakukan dengan sadar ada perubahan tingkah laku (change of behaveor) yaitu berhasil umpama dari suatu yang buruk menjadi lebih baik, merasa kenikmatan ada rezeki yang diterima, puas akan apa yang diperolehi. Mencoba melaksanakan disiplin itu yang mendasari belajar mengajar ini juga dilandasi dari rasa takut kemudian berharap ada berkahnya, maka faktor guru merupakan nominasi utama diantaranya orang tua bagaimana menampilkan kedisiplinan itu yang dapat dicontoh dan diikuti oleh anak generasi. Dalam kesempatan ini orang tua mempersiapkan waktu untuk anak generasinya berbuat dengan kebiasaan, kebaikan (Khuswatun Hasanah) adat istiadat hidup masyarakat ini. Kalangan pendidikan menyebut pendekatan latihan ini dengan dresur yang dibaringi pula akan penghargaan rainforsment atau riword. Nominasi lain disamping orang tua (pendidikan informal) sekolah (pendidikan formal) dan masyarakat (non formal) dapat berbuat demikian bagaimana melakukan monitoring dan memotivasi karena prilaku yang diharapkan dari keteladanan itu tumbuh dengan rentang waktu yang panjang artinya harus dimulai dari usia dini, apalagi  sifat keteladanan ini bila ada interaktif yang baik dan umpan baliknya.

Makna takut dari Takwa yaitu adanya nilai moral spiritual bukanlah diartikan lari atau menjauh malah mendekat menyatu terbiasa dan berbuat dengan analisa dan sintesanya. yaitu semakin membaik, dinamis, optimis tumbuhnya potensi diri, percaya diri, membangun diri yang terlihat dalam budi pekertinya.

Kedisiplinan yang mendasari belajar mengajar itu menjadi prilaku masing-masing yang terkait artinya ada contoh keteladanan buat generasi. Hubungan keteladanan dan situasional dapat membuat keikutsertaan generasi diantaranya ada dalam prilaku kehidupan masyarakatnya yaitu :

Komunikatif, sifat menerima (accepteen), mempersiapkan kondisi yang kondusif, ramah tamah, toleran, solidaritas tinggi, sifat menyenangkan, memaafkan, amanah, jujur, tidak sombong dan lain-lain.

Banyak contoh-contoh kelemahan prilaku yang diremehkan generasi runtuhnya nilai budaya yang harus diangkat, diperhatikan menjaga martabat generasi dan nilai budaya ini diantaranya : 

1. Wirid selepas sholat

Generasi masyarakat ini selepas sholat yaitu sesudah salam meninggalkan tempat sholat, sedangkan kita tahu berimam. Disini ada kerugian dari apa yang dibuat dan kita juga tahu bahwa itu adalah perintah Yang Maha Kuasa. Artinya ada ketidaktahuan generasi yang perlu dipelihara tentunya nilai iman. Sesungguhnya Yang Maha Kuasa memberikan ganjarannya diantara tuntunan ini berbunyi

Bertakwalah kamu kepadaKu hai orang-orang yang berakal

Terhadap nikmat Tuhan hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (Bersyukur)

Tasbihlah (sucikanlah) nama Tuhanmu Tuhan yang maha besar

Artinya apa, bahwa generasi ini belum memahami banyak apa yang dikerjakan sesungguhnya dalam tuntunan itu adalah merupakan nikmat, rezeki, syurga hidup ini.

2. Mengucapkan salam, sesungguhnya itu membawa kita senantiasa selamat ada dalam rahmat buat kita semua. Syukur-syukur dahulu murid-murid disekolah masuk pagi mengucapkan ini, Sekarang kelihatannya hilang lagi.

3. Pelaksanaan Fardhu Kifayah, generasi masih berbual-bual, tertawa, menggunakan Hp, sedangkan Jenazah pada hakekatnya berharap ada bantuan do’a teman-teman yang datang melayat.

4. Puasa, tarawih, witir, santapan ramadhan, tampak remehnya jemaah atau masyarakat. Sesungguhnya Agama menuntun kita bahwa berapa banyak ganjaran Yang Maha Kuasa buat orang yang beramal sholeh, beriktikaf pada bulan ramadhan itu. Kenyataan ini kecil sekali disamping didesa tidak ada santapan ramadhan. Kegiatan ini adalah bentuk pembiasaan, buah pikir yang harus tertanam dalam kehidupan generasi.

5. Prilaku yang meremehkan dan tidak tampak disiplinnya sungguh banyak seperti jam karet, tidak jujur, menggunakan jalan dan perangkat media dan lain-lainnya.

Kenyataan perbuatan generasi ini banyak takutnya pada hubungan sesama manusia (hidup dunia) pada posisi Yang Maha Kuasa dipandang remeh sesungguhnya itu adalah yang utama. Coba bapak ibu cari lagi contohnya, beri saya atau ibu bapak tulis dan sebarkan. Itu juga bagian sebagaimana tuntunan agama yang diartikan “Demi Masa, bahwa manusia itu dalam kerugian, kecuali mereka-mereka yang saling nasehat menasehati akan kebenaran dengan sabar”.

Membekali generasi dan utuhnya nilai budaya pandangan agama dan ilmuan berupaya berbuat menselaraskan antara sikap mental dan moral. Hikmah, ridho dan berkah merupakan sasaran yang harus hidup didalam diri generasi ini bagaikan lampu suar memancarkan sinarnya. Prilaku inilah yang harus diciptakan dimana generasi sadar, dirinya berharga dari keberhargaan orang lain.

Mencapai prilaku generasi yang sadar dan jernih dengan solusi-solusi yang ada tertumpang lini tugas bersama pihak berkempeten diantaranya :

1. Kades, RT, Masyarakat, Ikut bersama merumuskan kerja berupa kearifan lokal ada tuntutan yang harus disikapi warga karna satu dan lainnya berpengaruh buat generasi. Kita senantiasa bersaudara bersatu dalam satu bangsa.

2. Pihak berkopeten dapat beralasan bahwa untuk hal yang demikian sudah dilimpahkan dipercayakan kepada masyarakat (desa) kalau masih terjadi itulah kelemahan yang juga harus ditingkatkan.

3. Membangkitkan kembali apa yang digariskan pemuka-pemuka terdahulu seperti kerjasama dan bersama-sama dan ciptakan segala sesuatu dengan skala perioritas, mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi dan konsekuensinya maka efektifitas dan efesiensi ukuran yang benar dapat diterapkan.

4. Kalangan pendidikan tidak perlu pusing mencari bentuk-bentuk pendidikan karakter menumbuhkan prilaku generasi sadar dan jernih sesungguhnya sudah ada pelaku-pelakunya, diantaranya pendidikan formal, sedangkan informal, non formal belum diberdayakan. Maka perlu penguatan dan koordinasi untuk itu. Kita selalu lupa bahwa apa yang diatas adalah karena ada yang dibawah. Sejalan  12  Rabiulawal ini, yaitu Nabi Muhammad SAW diutus kedunia ini melainkan untuk memperbaiki akhlak mulia manusia.

5. Pihak-pihak masyarakat senantiasa berbuat bermusyawarah dengan putusan-putusannya ada dalam pola pikir yang harus diikuti dilakukan sehingga ada kebiasaan-kebiasaan yang terarah dapat dikontrol menjadi ukuran sikap dan moralitas manusianya yang humanistik.

6. Pihak-pihak masjid, mushalla, pengurus para imam, pendakwah, berbuat mempersiapkan waktu senantiasa dalam perannya serta dapat memberikan pengaruh, keteladanan sehingga memicu generasi untuk terpaut berbuat bersama, beramal kebaikan. Pengaruh keteladanan ini terkait akan hubungan sesama begitu juga hubungan dengan  pencipta “ Hablumminallah, Hablumminannas”

7. LAMR sebagai kelembagaan bagaimana berperan aktif sebagaimana generasi masyarakat yang diminta prilaku jernihnya, artinya bukan sekedar basa basi, pelengkap, namun berbuat dengan keputusan-keputusan mencoba memfungsikan makna lambang payung lembaga yaitu berharap dapat bersama-sama baik diwaktu panas apalagi dimusim hujan. Artinya tak ada lain bagaimana berpikir, berbuat dengan niat tekad membawa hidup generasi masyarakat berbudaya, bersaudara, bersatu dalam Kesatuan Negara Republik Indonesia.

6. Kegiatan Pemberdayaan yang dilakukan

Mencoba kegiatan yang dilakukan, yang menyentuh kehidupan orang banyak dapat dikoordinir misalnya Kegiatan Ceramah Agama ... tentunya di Masjid-masjid, Mushalla, sekolah didesa, disamping kunjungan kesekolah Madrasah, Kampus dimana generasi masyarakat itu berada. Kegiatan terkait  akan apa yang diperlukan dapat pula diperkuat dengan kepengurusan yang di SK mungkin oleh RW, Dusun setempat dan  boleh pula diberi nama, seperti Kelompok Pengajian, Generasi Masyarakat Maju. Personil keperngurusan boleh saja ketua, sekretaris, bendahara kemudian seksi 1, 2, 3 dan anggota yang jumlah secukupnya. Kepengurusan adalah hasil rapat Masjid RT, RW setempat. Berbuat melakukan kegiatan ini dengan upaya maksimal masuk pada tuntunan tindakan kuratif boleh saja diiringi pendanaan, donator, yang teragenda dengan jelas.ini juga memenuhi tuntutan otonomi yang dimaksudkan pemerintah.  

Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dilakukan, terkait akan tanggung jawab ...  apakah hubungan dengan tindakan monitor, evaluasi baik itu pihak pemerintah,  Instansi Dinas, Lembaga LAMR, MUI, begitu juga orang perorangan dalam kapasitasnya dapat mengisi materi kegiatan yang sebelumnya dikonfirmasikan bersama koordinator. Pihak-pihak terkait tinggal menyampaikan jadwal kapan waktu kunjungannya.

Pendayagunaan pendekatan ini, jelas diterima generasi masyarakat ada dalam informasi satu sama lainnya, yaitu ada pengalaman, pengetahuan, pendevinisian, pengertian, dan kesan materi masukan, kondisi yang memuaskan hati, terpenuhi apa yang menjadi pemikiran sehingga menyatukan pemikiran ini menjadi sikap prilaku generasi yaitu ada penerimaan diri (Self accaptene), pemahaman, percaya diri  (Self understanding ) lebih jauh tumbuh prilaku mengaktualisasi diri (Self actualizition) berbuat apa yang harus dilakukan.

Generasi dengan pertemuan dan masukan ada perubahan tingkah laku bagaimana generasi berbuat menyenangkan, ramah tamah, bersahabat, berbudi, sopan santun, tolong menolong, rasa terimakasih, memaafkan sebagai realisasi stimulus respon yang diterima yaitu merasa diri berharga dari keberhargaan orang lain.

Kegiatan ceramah yang dicoba itu apakah itu kelompok ibu-ibu yang telah biasa dalam kegiatannya, kelompok bapak-bapak,  generasi mungkin saja dari remaja atau karang taruna. Tergantunglah dari tim koordinator pelaksanaan.

Dihubungkan dengan dana ADD yang masuk lewat kepengurusan masjid dapat dipergunakan, ini juga kelemahan jika penggunaannya tidak jelas.  Dana ini dipandang cukup untuk pelaksanaan cuma jika kurang boleh dikonfirmasikan kepada pihak berkompeten apalagi pemikiran ini dipandang ada benarnya. Banyak kegiatan-kegiatan yang boleh dilakukan diantaranya melalui perayaan hari besar Islam apakah itu Isra’ Mijraj, Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, Santapan Ramadhan di desa-desa atau yang sifat bergiliran diantara desa. Kegiatan ini cocok dilakukan pihak berkompeten, bartanggung jawab akan kehidupan bermasyarakat ini. Ini boleh kita pikirkan bersama kalau ini benar-benar dicoba untuk dilakukan.

Optimisasi kita dapat diprediksi bersendi dari teori “Kelompok kuat apabila anggota berperan aktif dan terintegrasi lebih baik dalam kelompoknya”, atau yang lain “Makin besar kesadaran yang menyertai suatu aktifitas atau pengalaman bathin berarti makin intensifnya aktivitas pengalaman yang terjadi”.   

Kegiatan pertemuan di Lingkungan dan Desa menghidupkan sikap generasi bermusyawarah, saling bersama menyatu diri berbagi pandangan berbuat dari hati yang tulus, jujur, berbudi, bertanggung jawab, ada tuntunan bila salah ada penggalangan bila lemah, Ada kepedulian sebagai bentuk keteladanan.

Pendekatan ini banyak lemahnya, seharusnya ini yang utama. Melayu berbuat melakukan ini sebagaimana nada pantun; yang tua dituakan, muda remaja diikut sama, bila kecil dipelihara dibina sudah besar hidup jadi berharga.

Bapak-bapak, ibu-ibu, sosialisasi ini maunya ada kesepakatan, menjadi komitmen kita, bahwa normatif generasi masyarakat ini harus ditegakkan dan ditaati. Saya yang menyampaikan menunggu jawaban bapak ibu apakah titik-titik penguatan ini benar ada dalam perlakuan generasi ini. Jawaban bapak ibu disaksikan ...”Khu’amfusikum waahlikumnaro”. Akhirnya dengan tanggung jawab ini, potensi, kebiasaan dan kondisional yang diciptakan dapat mengikis kelemahan yang terjadi dan tertanamnya nilai moralitas generasi ini.

Demikian, berpikir ini sedikit tidak seberapa, sabar dan ikhlas mudah-mudahan dicatat sebegai amal kebaikan kita, bahwa Yang Maha Kuasa memberikan ganjaran kebaikan yang katanya “Barang siapa mengerjakan kebaikan dan ia beriman niscaya kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik kami balas mereka dengan pahala yang terbaik dari amal kebaikannya”. Pemikiran dan solusi ini mendukung berkembangnya lembaga pendidikan, madrasah pesantren di desa yang meminta motivasi kita. Mengantisipasi dan memperbaiki kelemahan yang terjadi harus ada evaluasi, kontroling dan rumusan yang jernih dari kita. Mohon maaf apabila pikiran ini dipandang salah dan jika ada benarnya mari ditindaklanjuti untuk memperkuat budaya, dan Nilai-nilai Kearifan Lokal melayu negeri ini Bengkalis Negeri Junjungan.

Terimakasih pemikiran dan perjuangan ini berpegangkan semangat melayu dalam petuahnya “Takkan Melayu Hilang Dibumi”. Keberadaan LAMR yang aktif membawa generasi masyarakat kreatif, komunikatif, produktif, berbudi, lebih positif menangkal pengaruh negatif. Silaturahmi dan pendekatan ini, itulah hidup yang hakiki.

Ilmu Ilmiah dengan Refrensinya

Pikiran ini membuka mata semua

Penulis pembaca akan bahagia

Bila yang salah dapat benar adanya

 

Bapak Ibu dihari ini

Hari esok belum diketahui

Bapak Ibu tahu apa yang terjadi

Mari perbaiki kelemahan ini

 

Stimulus Respon sudah diterima

Berpikir itu hidupnya manusia

Bila bapak ibu begini-begini juga

Kapan generasi hidup sempurna

 

Rampai Berpikir Majukan Negeri Buku 5

Oleh : Drs H. Anwar Thaib (Melayu Bengkalis)

 

 

 

 

  Print Berita

Redaksi menerima kiriman berita dan foto. Bagi yang berminat silahkan kirim berita dan foto Anda ke email:prodesanews@gmail.com

0 Komentar

Tulis Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Komentar Facebook